Home » » Adik Dan Mamaku Bagian 2

Adik Dan Mamaku Bagian 2

Penulis : yueztimothy on Minggu, 28 Maret 2010 | 19.18

Aku menghampiri Mama di ruang TV.
"Wan, Mama mau bicara dengan kamu."
"Ada apa Mam, koq serius banget sih?", aku bisa memperkirakan apa yang akan Mama bicarakan, tapi pura-pura tidak tahu.
"Mama kecewa dengan kamu. Sangat kecewa."
"Kenapa Mam?", sekali lagi aku berpura-pura tidak tahu.
"Wan, Shinta itu kan adik kamu. Tapi kamu malah menidurinya". Mama tampak serius tapi tidak kulihat adanya kemarahan.
"Oh yang Mama lihat tadi sore ya?", aku mengarahkan langsung ke pointnya. Dan Mama tampak terkejut.
"Jadi kamu tahu kalo Mama memperhatikan kalian? Dan kamu tidak menghentikannya?".
"Tahu koq", aku jawab dengan tenang. Sebelum Mama berkata apa-apa, aku melanjutkan..
"Aku dan Shinta sudah lama melakukannya. Sudah sekitar tiga tahunan". Mama tampak lebih terkejut lagi.
"Semuanya baik-baik saja kan Mam. Dan Mama juga tahu kalo Shinta juga menyukainya. Bahkan kalo sudah seminggu tidak melakukan, Shinta akan nagih Mam."
"Kalo Mama marah sih, Iwan sama Shinta hanya bisa ndengerin. Tapi kalo untuk berhenti susah Mam. Kalo nggak ada siapa-siapa pasti kami akan melakukannya lagi. Pasti Mama juga ngerti", lanjutku lebih jauh. Mama diam sesaat. Kemudian akhirnya memberikan jawaban..
"Benar, kelihatannya bakal susah untuk menghentikan kalian. Sebenarnya Mama tadi shock banget, ngeliat kedua anak Mama saling bersetubuh. Tadinya Mama khawatir kalo kamu memperkosa Shinta. Tapi tadi Mama ngeliat, bahwa Shinta juga menyukainya. Jadi yang penting hati-hati saja. Jangan sampai Shinta hamil. Dan satu lagi, jangan sampai orang lain tahu apalagi Papa kamu".
"Mama tenang saja. Iwan sudah tiga tahun melakukannya. Dan aman-aman saja kan?", aku menenangkan Mama.
"Jadi kamu sudah meniduri Shinta sejak kamu SD ya? Terus kamu kapan aja melakukannya?", Mama jadi ingin tahu.
"Ya kalo sudah malam, Mam. Kadang-kadang di kamar Shinta, kadang-kadang di kamar Iwan. Atau kalo tidak ada siapa-siapa di rumah selain Iwan dan Shinta."
"Pantas saja, sekarang kamu dan Shinta sering ngga mau kalo diajak kemana-mana. Seberapa sering kamu dan Shinta bercinta?", satu lagi pertanyaan dari Mama.
"Seminggu bisa lebih dari 6 kali. Minimal 4 kali seminggu kalau Shinta ngga lagi M.", jawabku.

Ada beberapa tanya jawab lainnya antara aku dan Mama. Keingintahuan Mama membuatku ingin mengungkapkan satu rahasia lagi ke Mama. Yaitu, bahwa aku juga telah menyetubuhinya. Tapi tanpa informasi mengenai obat bius tersebut tentunya.

"Wan, jadi kamu pernah bercinta dengan siapa saja selama ini?", Mama bertanya. Dalam pikiranku, kebetulan sekali pertanyaan itu.
"Dengan Shinta, jadi dua orang Mam."
"Mm. Satu orang lain itu pacar kamu ya?", Mama sok menebak.
"Bukan Mam. Kan Iwan belum punya pacar."
"Lalu siapa dong, teman kamu ya?", tanya Mama.
"Bukan juga."
"Siapa dong, Mama jadi penasaran". Mama benar-benar penasaran. Pikirnya anak siapa lagi yang telah aku setubuhi.
"Mama mau tahu ya? Tapi jangan marah ya."
"Iya. Mama mau marah gimana lagi? Siapa sih satu orang lagi itu?".
"Mama", aku menjawab dengan tenang.
"Siapa?", entah Mama merasa salah dengar atau memang tidak dengar.
"Mama", aku ulangi jawabanku. Sekali lagi Mama tampak kaget penuh rasa tidak percaya.
"Mana mungkin. Kamu jangan mengada-ada, Wan."
"Benar. Cuma aku melakukannya saat Mama sedang tidur. Sebelumnya aku memastikan bahwa Mama sudah tertidur pulas". Mama mendengarkan dengan serius.
"Biasanya sih kalo Papa lagi keluar kota Mam. Sebenarnya pengalaman pertama Iwan, ya dengan Mama, baru dengan Shinta".

Tampaknya Mama mulai mempercayai dengan apa yang aku katakan. Maka aku ceritakan awal pertama kali pengalaman seksku. Setelah aku menceritakan panjang lebar, Mama bertanya..

"Jadi kamu sudah meniduri Mama dan adik kandung kamu sendiri. Dasar anak nakal. Mana yang lebih kamu suka, Mama atau Shinta?", aku agak terkejut juga dengan pertanyaan Mama.
"Sama-sama enak Mam. Kalo bisa sih, Iwan bisa dapet dua-duanya terus".

Mendengar itu Mama tersenyum dan berdiri lalu berjalan ke kamar. Namun entah bagaimana, tiba-tiba saja aku jadi bernafsu. Aku ingin meniduri Mama saat ini juga. Bagaimana rasanya bersetubuh dengan Mama dalam keadaan sadar. Lalu aku pun menyusul Mama ke kamar. Mama rupanya sedang rebahan sambil memegang buku. Lalu aku duduk di pinggir ranjang di samping Mama.

"Ma, boleh nggak Iwan meniduri Mama sekarang. Iwan jadi kepingin banget".
"Dasar anak nakal. Mentang-mentang nggak dimarahin, langsung aja minta", Mama hanya tersenyum. Walaupun tidak mengiyakan tetapi Mama juga tidak tampak marah. Maka aku kejar lagi..
"Gimana, boleh ya Mam".

Sementara itu tanganku mulai bermain-main di paha di balik daster Mama. Dan lalu tanganku mulai meraba-raba vagina Mama. Usahaku membuahkan hasil. Nafsu Mama pun akhirnya muncul. Ia membiarkan tanganku bermain-main, bahkan Mama merentangkan pahanya. Jari-jariku bermain-main di celah-celah vaginanya. Vaginanya yang semakin basah dirasakan oleh jari-jariku.

"Wan, kalo kamu mau.. Cepetan ya. Biasanya setengah jam lagi Papa kamu pulang", sambil tersenyum Mama menyetujui permintaanku.

Mama langsung membukakan dasternya. Sedangkan aku membantu menarik CD-nya. Setelah itu aku lepaskan semua pakaianku. Mama segera membentangkan pahanya. Karena waktunya singkat, Mama menginginkan langsung ke permainan utama. Aku pun menempatkan tubuhku di atas tubuh Mama. Mama memegang penisku yang telah keras dan mengarahkan ke vaginanya. Baru masuk sedikit, Mama langsung menarik pinggangku agar penisku segera didorong memasuki lubang kenikmatannya itu. Begitu seluruh penisku masuk, Mama langsung menggoyang-goyangkan pinggangnya hingga membuat penisku terasa nikmat diputar-putar.

"Wan, ayo ditarik-dorong dong punya kamu". Tanpa perintah dua kali, aku langsung memenuhi permintaan Mama.
"Wan, Mama mau seperti yang kamu lakukan dengan Shinta ya. Goyang Mama yang kuat ya sayang. Mama ingin kamu muasin Mama. Bikin Mama kelelahan ya", pintanya.

Sekali lagi aku penuhi permintaannya. Kami saling menggoyang. Setelah lima menit, kami berganti posisi. Aku di bawah, sedangkan Mama menduduki penisku. Ia menggoyang sambil memutar-mutar pinggulnya. Aku biarkan Mama melakukan apa yang diinginkannya. Aku ingin Mama puas. Aku ingin menyenangkan Mama. Salah satunya adalah dengan memberinya kepuasan seks.

Dan tiga menit sesudah berganti posisi, akhirnya Mama mencapai orgasmenya. Gerakannya semakin lambat dan berhenti. Langsung aku duduk dan peluk tubuh Mama. Aku rebahkan dia, sekarang kembali ke posisi awal. Aku di atas Mama. Aku goyang pinggulku, agar penisku dapat merasakan dinding-dinding vagina Mama. Aku hentakkan pinggulku dengan keras. Aku tarik lagi. Dan hentakkan lagi.

Setelah permainan cepat selama hampir lima menit, aku sudah tidak dapat membendung kenikmatan yang mengalir dari seluruh tubuh melalui penisku. Aku tebarkan benih-benihku di dalam vagina mamaku. Tapi saat itu aku merasakan lagi denyutan di dalam vaginanya. Mama orgasme lagi. Setelah saling memuaskan, kami mengenakan pakaian kami masing-masing. Mama menyuruhku naik ke atas, sedangkan Mama mandi.

Di lantai atas aku menuju kamar Shinta, dan menceritakan apa yang baru saja aku alami. Shinta tampak antusias. Dan ia pun berkomentar..

"Kalo gitu kita bisa lebih sering dong. Bisa kapan aja". Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Selama liburan seminggu itu, aku 8 kali meniduri Mama. Biasanya aku melakukannya pada pagi hari, sesaat setelah Papa berangkat ke kantor. Dan sejak itu aku tidak takut dimarahi Mama kalau ingin bercinta dengan Shinta. Bahkan saat kami bertiga menonton TV, aku dapat dengan leluasa meminta Mama atau Shinta bercinta. Tapi kami tidak pernah melakukannya bertiga. Aku dan Shinta biasa melakukannya dimana saja di dalam rumah. Tetapi Mama hanya mau melakukannya di kamar tidur.

Pernah sekali pada suatu pagi, saat Papa sudah berangkat ke kantor, aku dan Shinta sudah mengenakan seragam sekolah kami dan siap berangkat. Tiba-tiba saja aku merasa bergairah melihat Shinta dalam seragam sekolahnya. Akhirnya aku meminta Shinta untuk mau bercinta saat itu juga. Shinta memang adik yang baik, memahami keinginan kakaknya. Akhirnya kami pun melakukannya dalam posisi berdiri. Shinta menungging di meja makan. Aku angkat roknya dan aku turunkan CD-nya sebatas lutut. Aku pun memasukan penisku ke vaginanya dari belakang. Mama yang menyaksikan kami hanya menggelengkan kepala.

Sampai aku kuliah di tingkat 3, Shinta dan Mama selalu membahagiakan aku. Menghilangkan tekanan di kepalaku dan terutama di penisku. Bagaimana pun kami satu keluarga. Yang mempunyai kesamaan. Berusaha memberi kebahagiaan, kepuasan dan kenikmatan. Ya, selama sepuluh tahun.

Sejak tingkat 3, aku mulai mempunyai pacar. Sampai saat ini sudah 4 orang yang menjadi pacarku. Namun sejak 2 tahun yang lalu aku mendapatkan pacar yang seksi seperti Shinta. Beruntungnya aku. Kami saling menyayangi. Ia merasa sangat beruntung memiliki aku. Karena aku penuh perhatian dan memahami kebutuhannya, sementara ia berasal dari keluarga broken-home. Selain itu aku juga selalu dapat memuaskan nafsunya pula.

Setelah berjalan satu setengah tahun, aku menceritakan fakta tentang hubunganku dengan Mama dan Shinta. Pacarku langsung marah dan menyatakan putus. Tapi sebulan sesudah itu ia kembali lagi. Mungkin ia merasa kami aneh, tapi aku selama ini selalu bisa membuatnya bahagia. Dan sampai sekarang ia tetap menjadi kekasihku. Mungkin tahun depan kami akan menikah. Semoga kami bahagia.

Share this article :

Posting Komentar

 
Design Template by yueztimothy | Support by Yueztimothy | Powered by EdisiGaul